SIBERINDO.CO, KOLAKA — Aliansi Mahasiswa Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka kembali menggelar aksi unjuk rasa di kantor bupati Kolaka, Rabu (7/10/2020).
Aksi mahasiswa yang menolak penggunaan jalan umum untuk aktivitas hauling di kecamatan Pomalaa tersebut digelar di kantor bupati Kolaka.
Aksi yang dimotori Rahmad Hidayat tersebut berlangsung sejak pagi hingga menjelang malam, dan sempat diwarnai saling dorong dengan puluhan personil polisi di depan gerbang kantor bupati.
Sebuah kendaraan water canon milik Polres dan dua kendaraan pemadam kebakaran milik Pemda Kolaka disiagakan untuk menghadapi kemungkinan buruk.
Dalam aksi kali ini, mahasiswa ngotot bertemu bupati guna menagih janji menghadirkan perwakilan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) untuk memberi klarifikasi terkait dispensasi penggunaan jalan untuk hauling tambang.
Namun karena tidak kunjung ditemui oleh bupati,
mahasiswa pun marah dan berkali-kali mencoba menerobos barikade polisi untuk bisa masuk ke area kantor bupati. .
Wakapolres Kolaka Kompol Robert Silas yang memimpin langsung jalannya pengamanan aksi berkali-kali turun tangan menenangkan pengunjukrasa.
Namun upaya persuasif tidak membuahkan hasil. Beberapa mahasiswa bahkan berhasil memasuki halaman upacara kantor bupati dengan cara melompat pagar.
Setelah hampir tiga jam melakukan orasi dan sesekali terlibat saling dorong dengan polisi, sekira pukul 14.15 wita seluruh pengunjukrasa akhirnya berhasil menerobos masuk ke pelataran kantor bupati.
Saling kejar sempat terjadi selama beberapa saat, namun suasana kembali tenang saat Wakapolres dan beberapa perwiranya melakukan pendekatan dengan perwakilan pengunjukrasa.
Dalam dialog itu, para mahasiswa akhirnya diizinkan untuk melanjutkan orasi di halaman upacara tersebut dibawah pengawalan ketat pasukan Dalmas.
Tiga orang pejabat Pemda Kolaka masing-masing Asisten I, Asisten III, dan Kadis Kominfo sempat keluar menemui para mahasiswa dan mencoba memberi penjelasan mengenai alasan ketidakhadiran bupati dan perwakilan BPJN.
“Perwakilan BPJN belum bisa hadir karena seluruh kantor (karyawan) mereka sedang proses lockdown karena Covid,” ungkap Asisten III, Wardi.
Bukannya mereda, setelah mendengar penjelasan Wardi, pengunjukrasa bahkan semakin marah dan berkali-kali melontarkan kalimat provokatif.
Asisten I Setda Kolaka Muhammad Bakri yang juga turut hadir menemui mahasiswa sempat terpancing emosi karena setiap ucapannya selalu disela oleh beberapa pengunjukrasa.
Karena tidak ada titik temu, tiga perwakilan pejabat Pemda Kolaka tersebut akhirnya meninggalkan lokasi aksi.
Sekira pukul 14.25 wita, pengunjukrasa kembali berhasil menerobos pengamanan polisi, lalu mendekati teras utama kantor bupati.
Namun upaya lebih jauh untuk menduduki kantor bupati kandas, karena puluhan personil polisi pamong praja bertameng lengkap menghadang mereka.
Hingga pukul 18.50 wita, aksi Aliansi Mahasiswa USN terus berlangsung di bawah pengawalan puluhan personil Polres Kolaka.
Ditengah guyuran hujan deras, bentrokan antara polisi dan pengunjukrasa akhirnya pecah. Saling hantam antara polisi dengan mahasiswa berlangsung selama beberapa menit.
Hujan batu dan kayu sempat menghujani aparat kepolisian yang kemudian dibalas dengan tembakan gas air mata.
Sedikitnya 3 mahasiswa sempat diamankan dalam bentrokan tersebut. Namun akhirnya dibebaskan kembali sekira 1 jam kemudian.
Beberapa personil TNI dari Kodim 1412 Kolaka terlihat turut membantu melakukan pengamanan.
Pukul 18.40 wita pengunjukrasa akhirnya membubarkan diri, namun berjanji akan melakukan aksi serupa, dan mengancam akan menduduki kantor bupati Kolaka hingga bupati dan perwakilan BPJN mau menemui mereka, dan aktivitas hauling do desa Tambea, kecamatan Pomalaa dihentikan.
Untuk diketahui, aksi unjuk rasa aliansi mahasiswa USN kali ini adalah ketujuh kalinya digelar di DPRD dan Pemda Kolaka.
Para mahasiswa menuntut Pemda Kolaka dan DPRD segera mengambil sikap terkait penggunaan jalan umum oleh PD Aneka Usaha/Perusda Kolaka untuk aktivitas angkutan material ore nikel mereka di kecamatan Pomalaa.
Menurut mahasiswa, penggunaan jalan poros yang menghubungkan kabupaten Kolaka dan kabupaten Bombana untuk hauling telah memicu berbagai kecelakaan dan kerusakan jalan.
Pada aksi unjuk rasa sebelumnya, mahasiswa dan puluhan polisi Pamong Praja yang dibantu personil Polres Kolaka sempat bentrok di depan gerbang utama kantor bupati.
Ketika itu massa aksi sempat ditemui oleh Bupati Ahmad Safei di depan kantor bupati, dan dilanjutkan pertemuan di ruang rapat bupati.(publiksatu)











Komentar