SIBERINDO, BUTON – Nama pendiri Brimob dan La Karambau bakal diabadikan pada nama jalan di Kabupaten Buton.
Tujuannya, agar para pejuang pahlawan Buton selalu dikenang dan menjadi sejarah bagi generasi muda.
Pendiri Brimob yang dimaksud yakni Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Dr H Moehammad Jasin, bapak pendiri Brimob Polri dan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, Sultan Buton ke-20 pada 1752–1755 dan ke-23 pada 1760–1763.
Bupati Buton, La Bakry berharap pengabadian dua pahlawan sebagai nama jalan itu rencananya akan ditetapkan disaat momen hari pahlawan nasional.
“Mudah-mudahan di hari pahlawan nanti. Sudah ada dua pahlawan Buton. Letnan Jenderal Muhamad Jasin. Pahlawan nasional, pendiri Brimob dan juga Oputa Yi Koo. Juga kita akan abadikan dengan nama jalan,” ujar Bupati Buton, La Bakry saat ditemui sejumlah wartawan di eks kantor Bupati Buton usai memimpin upara HUT RI ke-75 belum lama ini.
“Sehingga itulah yang menjadi monumen bagi generasi muda bahwa kita punya pahlawan dan kita siap melanjutkan perjuangan mereka,” sambungnya.
Untuk diketahui, Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Dr H Moehammad Jasin lahir di Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara, 9 Juni 1920. Ia meninggal di Jakarta, 3 Mei 2012 pada umur 91 tahun.
Jasin dikenal sebagai Bapak Brimob Polri. Gelar Pahlawan Nasional diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015 pada tanggal 5 November 2015.
Dilansir dari berbagai sumber, pada 21 Agustus 1945, Inspektur Polisi Moehammad Yasin, Komandan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) Surabaya, menyatakan bahwa Tokubetsu Keisatsutai Surabaya menjadi Kepolisian Negara Republik Indonesia dan segera melakukan tindakan-tindakan untuk mempertahankan kemerdekaan RI.
Sosok kelahiran Sulawesi ini menunjukkan semangat juang dan prestasi cemerlang ketika menjalan- kan tugas dari Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo untuk membentuk Brigade Mobil.
Saat itu, 1946, Muhammad Yasin menjabat Kepala Kepolisian di Karesidenan Malang. Kesatuan yang diresmikan pada 14 November 1946 di Purwokerto ini sejak awal berdirinya berjasa mengatasi ancaman keamanan dan ketertiban seperti pada peristiwa Agresi Militer Belanda dan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Bandung serta pengamanan jalan di wilayah Jawa Barat dari ancaman gerombolan DI/TII.
Sedangkan, La Karambau yang bergelar Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo adalah seorang Sultan Buton ke-20 pada 1752–1755 dan ke-23 pada 1760–1763.
Ia giat bergerilya melawan menentang pemerintahan Hindia Belanda dalam
Perang Buton.
Sejak 1755, tidak lama setelah perang Buton, Sultan Himayatuddin menetap di Siontapina, Kabupaten Buton hingga meninggal pada 1776. Sultan Himayatuddin dimakamkan di puncak Gunung Siontapina.
Pada 11 November 2019, ia menjadi salah satu dari 6 orang yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. (p20)











Komentar