oleh

Tim PKM UHO Bantu Peningkatan Produksi Petani Jamur Tiram di Konsel Lewat Inovasi IoT

Siberindo.co, Kendari – Tim PKM Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mengembangkan smart kumbung berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu meningkatkan produksi jamur tiram (pleurotus ostreatus) di Desa Lebo Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Tim pengabdian tersebut diketuai oleh Rosliana Eso dengan beranggotakan Arman, dan La Ode Safiuddin.

Rosliana Eso mengatakan, jamur tiram merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat, baik dalam bentuk segar maupun produk olahan. Budidaya jamur tiram relatif mudah dilakukan dan memiliki prospek usaha yang menjanjikan di berbagai skala, mulai dari rumah tangga hingga industri kecil dan menengah (IKM).

Baca Juga  PDI Perjuangan Resmi Dukung Yudhianto Mahardika dan Nirna Lachmuddin di Pilwali Kendari

Sayangnya kata dia, para petani jamur tiram mengalami kendala dalam penyiraman dan pengaturan kelembapan di kumbung atau kandang jamur yang masih dilakukan secara manual karena keterbatasan keterampilan dalam penggunaan teknologi.

Tim PKM Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mengembangkan smart kumbung berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu meningkatkan produksi jamur tiram (pleurotus ostreatus) di Desa Lebo Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Tim PKM Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mengembangkan smart kumbung berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu meningkatkan produksi jamur tiram di Desa Lebo Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Rabu, 19 November 2025. Foto: Ist

“Karena para petani dalam melakukan penyiraman masih secara manual, maka kami tim PKM UHO melakukan inovasi dengan membuat alat penyiraman otomatis jamur tiram berbasis Internet of Things untuk membantu peningkatan produksi. Sasaran kegiatan ini, kami lakukan terhadap petani jamur tiram yang tergabung dalam kelompok Jamur Lestari,” kata Rosliana di Kendari, Kamis, 20 November 2025.

Mantan Ketua Jurusan Pendidikan Fisika FKIP UHO ini menjelaskan, secara umum, alat IoT ini dirancang untuk mengontrol kelembapan baglog atau media tanam jamur. Dimana petani dapat memantau kelembaban yang ditampilkan secara real-time dan mengontrol penyiraman dari jarak jauh melalui smartphone.

Baca Juga  Xiaomi Keluarkan Redmi Note 10, Layar AMOLED Seharga Rp2,3 Jutaan

“Pengembangan alat penyiraman pada tanaman jamur secara otomatis yang menggunakan mikrokontroler ESP8266 dan Analog Waterproof Capacitive Soil Moisture Sensor untuk mengukur kandungan volumetrik air di dalam tanah dan memberi informasi tingkat kelembaban sebagai output. Alat controling dan monitoring yang telah di kembangkan dapat menggunakan mode offline maupun online menggunakan aplikasi Blynk untuk meng on/off pompa,” ujarnya.

Rosliana mengatakan, aplikasi ini terlebih dahulu diinstalkan pada smartphone petani jamur. Jika jaringan internet tidak stabil maka alat akan bekerja dalam mode offline atau secara otomatis. Selain meningkatkan efisiensi penyiraman, alat ini juga membantu menghindari kesalahan manusia dan menghemat waktu.

Baca Juga  Mensos Gus Ipul: Ketum SMSI Firdaus Yang Membuat Kami Terperangkap Di Sini

Rosliana mengunkapkan, bahwa kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya mendukung program pemerintah dalam hal menyokong ketersediaan bahan pangan bernilai gizi tinggi. Selain meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman jamur tiram, adanya notifikasi yang terkirim pada smartphome petani memungkinkan mereka mengambil tindakaan penyiraman secara lebih tepat.

“Lalu dari sisi efisiensi kerja, teknologi ini juga memungkinkan petani memantau dan mengontrol kondisi kumbung tanpa harus hadir langsung di lokasi, sehingga mereka dapat melakukan aktivitas produktif lainnya di sawah atau di ladang,” pungkasnya. (DAN)

News Feed